Read Kawan Tidur: Naskah Drama by Hanna Fransisca Online

kawan-tidur-naskah-drama

Kawan Tidur Naskah Drama by Hanna Fransisca MENGUSIK CERITA yang baik adalah cerita yang mengusik Betapa pun sederhananya cerita itu Mengusik di sini bisa berarti mengobarkan semangat dan Naskah Pidato Untuk Anak anak Tema SYUKUR NIKMAT Sejak bangun tidur di pagi hari, hingga tidur kembali di malam hari Antara lain, sejak bangun tidur, kita bebas langsung bernapas Kita tidak perlu membeli udara terlebih dahulu. EVERYTHING Naskah Drama MONOLOG Masuk ke kamar dan membanting tas, lalu bersender pada tepi tempat tidur Wajah lesu diperlihatkan dan menarik napas dalam dalam, kemudian melihat ke atas memikirkan hari esok yang akan terjadi dan kemudian menghela napas. Contoh Naskah Drama Anak Anak scribd Terimakasih kawan kawan semuanya lebih baik aku menyiapkan segala sesuatunya untuk nanti malam jadi ini sementara yang lainnya mengawasi keadaan kalau kalau Pak serigala datang lagi seperti barusan oke oke saja Kancil pakaian adat Indonesia. Kawan Tidur BukaBuku Toko Buku Online Kawan Tidur Oleh Hanna Fransisca Naskah drama satu babak ini berawal dari tantangan dari Gunawan Maryanto dari Teater Garasi Penulis naskah ini langsung menyetujui dan dalam waktu kurang dari seminggu berhasil merampungkannya. Naskah Drama Putu Wijaya HUM PIM PAH LANTAI PENTAS DENGAN SEBUAH DIPAN DAN BARANG BARANG KECIL DI LANTAI YANG DIPERLUKAN OLEH NASKAH BABAK SATU SET SATU Dia tidur sekarang KAWAN Ya Kita sendiri harus sabar sedikit, kalau tidak dia bisa jadi korban KAWAN YANG DI ATAS CEPAT CEPAT TURUN BERGABUNG DENGAN TEMAN TEMANNYA DI SET TIGA PACAR Pak Pak tua Eva Ariyanti Naskah Drama Untuk Orang Pemain saya buat naskah ini dalam keadaan baik baik saja sehat jasmani dan rohani, dan perlu diketahui kawan kawan semua saya membuat ini benar benar tidak mengetahui jika film Surat Kecil Untuk Tuhan telah sudah makannya langsung tidur ya.

...

Title : Kawan Tidur: Naskah Drama
Author :
Rating :
ISBN : 9786029137187
Format Type : Hardcover
Number of Pages : 95 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Kawan Tidur: Naskah Drama Reviews

  • Arief Bakhtiar D.
    2018-10-25 11:33

    MENGUSIKCERITA yang baik adalah cerita yang mengusik. Betapa pun sederhananya cerita itu.Mengusik di sini bisa berarti mengobarkan semangat dan puji-pujian—sesuatu yang menaikkan perasaan.Di masa pendudukan Jepang, Pusat Kebudayaan menggunakan pujangga sebagai bagian dari propaganda Asia Timur Raya. Sajak-sajak yang muncul, novel atau cerita-cerita (termasuk drama) mesti dialamatkan untuk kepentingan Jepang, misal mengobarkan semangat perang rakyat demi cita-cita “Asia untuk Bangsa Asia”, atau puja-puji kepada kekuatan Jepang yang bisa dikatakan sensasional—mengalahkan militer Barat yang seakan-akan tidak mungkin dikalahkan. Bukan hanya rakyat kecil yang dipaksa tenaganya, jiwa dan pikiran pujangga Indonesia turut dijadikan romusha.Tapi di situ ada baiknya: penulis mesti serta merta yakin bahwa sebuah sastra adalah sastra yang berarti bagi masyarakat. Maka, seperti ditulis H.B. Jassin dalam Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang—buku tahun 1948 yang kembali diterbitkan tahun 2013 ini oleh Pustaka Jaya─cerita-cerita cinta, sajak-sajak rindu kampung halaman di tanah rantau, baris-baris bimbang memutuskan cinta antara dua pilihan, sebaiknya disimpan, kalau tidak bisa dibilang disingkirkan, buat diri sendiri karena posisinya dianggap racun untuk masyarakat. Karya, cerita pendek, atau sajak yang merintih-rintih dianggap melemahkan hati. Rakyat harus berkerja, dan sajak-sajak harus menyokong rakyat buat kerja. Rakyat harus tinggalkan kebiasaan bermenung-menung yang tidak mendukung kehendak zaman yang serba bergegas. Dalam arti seni untuk masyarakat itu, tulis H.B. Jassin lagi, sastrawan-sastrawan Indonesia telah “disiksa dan dimasak batinnya untuk revolusi yang akan datang”. Bukan siksaan yang sia-sia sama sekali.Pada masa sekarang tentu saja semua berubah, meskipun bekasnya terasa. Kita masih bilang bahwa sebuah cerita yang baik adalah cerita yang membuat kita mengoreksi, mungkin sambil marah-marah, pembacaan lagi atas apa yang terjadi di lingkungan kita. Cerita yang baik adalah cerita yang menyampaikan pesan dan menyuguhkan pembacaan berlapis-lapis. Dengan begitu, bagi sastrawan, menulis adalah membaca dua kali, seperti kata pepatah Yunani, atau bahkan tiga-empat kali.Kini potret karya yang mengusik tema-tema konflik di masyarakat, yang membuat kita berpikir, salah satunya ada dalam diri Hanna Fransisca. Perempuan muda Tionghoa itu menulis lakon Kawan Tidur (pernah dipentaskan Teater Garasi), drama tentang dua pemuda Tionghoa dan satu perempuan Tionghoa. Saya memilih Hanna dan lakon yang telah lama ditulisnya itu bukan karena asal: dalam dirinya hidup sebuah budaya, dan budaya itu memandang, mengalami, apa yang dialami pemiliknya.Lakon itu berlatar tempat di Singkawang, di sebuah kedai di sudut perempatan yang tutup pukul 19.00 karena ada Piala Dunia. Pemiliknya seorang perempuan bernama Selma. Suaminya, seorang lelaki parlente bernama Tom, diceritakan sebagai lelaki yang suka mabuk dan judi. Dia lah yang menjadi alasan kedai itu tutup pukul 19.00. Sebab selain suka mabuk dan judi, Tom juga percaya feng-shui: judi bola baiknya di kedai ketimbang di rumah, tak boleh ada kursi yang dipindah sejak awal kedai dibuka, pakailah selalu baju keberuntungan, dan syarat lain sebagainya.Fengshui itu pula yang menjadi pangkal masalah: patung naga yang seharusnya dihadapkan ke Kuil Dewa Bumi, malah dihadapkan ke arah hotel milik Tom. Simpo mencoba memperingatkan akibatnya, bahwa semua kemakmuran yang dulu untuk lingkungan sekitar kini hanya untuk hotel Tom. Apalagi datang info dari si Marwan dan Sudin, lelaki Melayu yang diceritakan mampir sebentar di kedai sekedar untuk minum-minum, bahwa akan ada konvoi untuk “unjuk kekuatan” yang akan berhenti di kedai Selma, dan merobohkan patung naga itu.Tapi bukan hanya patung naga, melainkan kedai Selma itulah yang juga menjadi pusat konflik. Di kedai itu, sebagaimana sering kita dengar mengenai Singkawang dan amoi-amoi, Hanna memasukkan tokoh Pak Gun, seorang mucikari amoi-amoi usia muda yang memang sering nongkrong di kedai Selma. Pak Gun hari itu bersama Lingling, amoi remaja yang telah ditawarkan kepada peminat dari Taiwan. Dan Pak Gun, tanpa sungkan, menawari pegawai kedai bernama Rika, 13 tahun, buat tidur di rumahnya sepekan (untuk ditiduri dulu, dengan dalih “latihan”), sebelum dijual jadi istri orang Taiwan. Prostitusi amoi inilah yang menjadikan kedai Selma target “unjuk kekuatan” pihak-pihak tertentu.Tapi siapakah “pihak-pihak tertentu” itu? Hanna tidak lugas menjawab. Potret penjualan amoi di Singkawang yang menjadi sumber lakon itu ditutup Hanna Fransisca hanya dengan pertanda: Tom, di antara pakaian-pakaian yang berserakan setelah bercinta dengan istrinya, mendengar suara ribut-ribut di luar, “Bakar kedai Selma, bakar kedai Selma!”Pada akhirnya Hanna tidak membuat akhir cerita yang terang benderang. Dia membuat kita bertanya-tanya. Dia menyerahkan kesimpulan kepada kita, pembaca. Tapi sedikit-sedikit, dari keseluruhan lakon itu kita akan membayangkan pesan ini: ada kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok tertentu (saya kira beberapa dari kita bisa menyebutkan satu contoh dengan emosi), dengan cara main hakim sendiri, kepada hal-hal yang menurut mereka salah dan mutlak harus dihapuskan di muka bumi.Mungkin karena berpotensi akan menyinggung kelompok tertentu, Hanna tak bercerita dengan menamai pelaku rusuh dalam akhir cerita. Sebab hal itu memang tak mudah. Dengan begitu Hanna menunjukkan kesopanannya—sekaligus kecerdasan dan kehati-hatiannya. Kita ingat pada zaman Orde Baru dulu Seno Gumira Ajidarma mesti cerdas dan menggunakan kalimat-kalimat dan kata kunci dalam membangun cerita pendek mengenai Timor Timur. Harus diakui, dalam sejarah negara kita, ada beberapa tema masyarakat yang seperti tabu untuk didekati dengan cara sastra. Seperti, dalam kata Chairil Anwar, pohon beringin keramat yang tak boleh didekati. Dari pohon beringin itu, kalau nekad didekati, akan ada sesuatu yang gaib menyerbu ke muka—semacam teror atau tekanan.Saya kira di situ lakon Hanna tetap berarti bagi masyarakat. Lakon Kawan Tidur seakan hidup di masyarakat lokal, dan secara tersirat mengusik agar masyarakat mulai bekerja: pekerjaan itu adalah mewujudkan perdamaian. Hanna menyediakan peluang bagi situasi sosial untuk muncul menjadi sesuatu yang paling penting dalam cerita. Hanna tidak terjebak pada arus cerita-cerita masa kini yang individual-sentris dan kerap lepas dari masyarakat di mana dia berada. Dia tidak menganggap manusia adalah cuma urusan kesepian, dan kita tidak mesti peduli dengan apa mereka menyepi—pekerjaan, cinta, kopi, atau ideologi.Bagi saya, yang kadang menulis cerita pendek ini, pembacaan dalam lakon karya Hanna ini lebih ke arah sebuah otokritik. Selama ini, demi keinginan untuk dapat menulis cerpen, saya membuat tulisan yang hanya khayal-khayal saja. Dari sekitar sepuluh cerita pendek terakhir yang saya buat, saya lebih banyak mengarungi waktu dan pikiran pribadi daripada mengarungi lingkungan sosial: isinya kalau tidak kalimat bimbang tentang cinta, atau berkisar antara hati yang merintih-rintih ditinggal pergi kekasih. Yang saya andalkan hanya selipan-selipan puisi, seperti karya Kahlil Gibran, Sapardi Djoko Damono, atau Subagio Sastrowardojo yang tidak dikenal umum. Dengan memasukkannya dalam cerita, yang semoga saja dibaca orang, saya ingin memperkenalkan begitu banyak puisi yang bagus dan bermakna dari sastrawan-sastrawan tadi. Kalau pun ada sesuatu yang menyinggung lingkungan sosial dalam cerita, hal itu hanya disebutkan samar-samar, disingkirkan dari pembahasan atau latar.Kita tentu tahu apa resikonya: cerita-cerita model saya tidak menambah pengetahuan, sebab memang tidak melalui riset yang mendalam, dan tidak membuat suatu pendidikan karakter, sebab memang lebih enak dinikmati sambil bermenung-menung risau.Maka, ampuni saya.